Tampilkan postingan dengan label BUDIDAYA TANAMAN KAKAO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDIDAYA TANAMAN KAKAO. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 November 2011

PETUNJUK TEKNIS SAMBUNG PUCUK TANAMAN

 

Oleh : Suwandi

Cara memperbanyak tanaman banyak ragamnya, mulai yang sederhana sampai yang rumit, ada yang tingkat keberhasilannya tinggi, ada pula yang rendah. Ini semua tergantung kepada beberapa faktor, misalnya cara perbanyakan yang kita pilih, jenis tanaman, waktu memperbanyak, keterampilan pekerja dan sebagainya. Perbanyakan tanaman bisa digolongkan menjadi tiga golongan besar, yaitu perbanyakan secara generatif, vegetatif, dan vegetatif-generatif.

     Perbanyakan generatif sudah sangat umum dijumpai, bahan yang digunakan adalah biji. Biji-biji ini biasanya sengaja disemaikan untuk dijadikan tanaman baru, tapi bisa juga tanpa disengaja biji-biji yang dibuang begitu saja, oleh alam ditumbuhkan untuk menjadi tanaman baru. Tentu saja tanaman baru hasil buangan  ini bisa dijadikan bibit, apabila diketahui segala sifat-sifat kelebihannya. Ini untuk menghindari agar tidak kecewa nantinya, setelah tanaman berbuah misalnya.

     Untuk menghindari rasa buah yang mengecewakan, bisa saja memanfaatkan tanaman hasil buangan itu sebagai tanaman batang bawah. Untuk batang atas perlu diketahui sifat-sifat unggulnya (untuk tanaman buah-buahan) atau warna bunganya   (bagi tanaman hias bunga) dan kecepatan pertumbuhan serta kelurusan batang pohon (untuk tanaman kehutanan) perbanyakan dengan cara ini kita sebut dengan perbanyakan Sambungan (Grafting).

     Walaupun telah diketahu jenisnya, kadang-kadang tanaman baru dari biji ini sifatnya sering menyimpang dari pohon induknya. Bahkan banyak tanaman yang kadang-kadang tidak mempunyai biji, untuk menghindari kelemahan-kelemahan yang terdapat pada perbanyakan generatif ini maka orang mulai memindahkan perhatiannya keperbanyakan vegetatif.

II. SAMBUNGAN ( GRAFTING )

     Grafting ini bukanlah sekedar pekerjaan menyisipkan dan menggabungkan suatu bagian tanaman, seperti cabang, tunas atau akar pada tanaman yang lain. Melainkan sudah merupakan suatu seni yang sudah lama dikenal dan banyak variasinya. Sharock’s (1672) dalam Wudianto (2002) menyatakan bahwa seni grafting ini telah digemari sejak dua abad yang lalu, yaitu sekitar abad ke-15 dia menggambarkan betapa pelik dan banyaknya ragam dari seni grafting ini. Disamping itu Thouin dalam Wudianto (2002) mengatakan bahwa ada 119 bentuk grafting. Dari sekian banyak grafting ini digolongkan menjadi tiga golongan besar, yaitu :

1. Bud-grafting atau budding, yang kita kenal dengan istilah okulasi

2. Scion grafting, lebih populer dengan grafting saja, yaitu sambung pucuk atau enten

3. Grafting by approach atau inarching, yaitu

cara menyambung tanaman sehingga batang atas dan batang bawah masih berhubungan      dengan akarnya masing-masing

     Penyambungan disini berarti penyatuan antara batang atas (sepotong cabang dengan dua atau tiga tunas vegetatif) dengan batang bawah yang sehingga gabungan ini bersama-sama membentuk individu yang baru.

     Batang bawah sering juga disebut stock atau root stock atau bahasa belandanya onder stam. Ciri dari batang ini adalah batang masih dilengkapi dengan akar, sedangkan batang atas yang disambungkan sering disebut entris atau scion. Batang atas dapat berupa potongan  batang atau bisa juga cabang pohon induk, kadang-kadang untuk penyambungan ini memerlukan batang perantara (Inter-Stock).

     Agar batang atas dan batang bawah bisa terus merupakan perpaduan yang kekal, maka sebaiknya dipilih batang atas dan batang bawah yang masih mempunyai hubungan keluarga yang dekat. Hal demikian tidak selamanya benar, klasifikasi botani biasanya hanya berdasarkan sifat-sifat reproduksinya, sedangkan penyambungan justru yang dipertimbangkan adanya persamaan sifat-sifat vegetatif tanaman. Selama ini yang digunakan sebagai patokan untuk melakukan penyambungan adalah berdasarkan sifat botaninya, maka tidak jarang suatu penyambungan mengalami kegagalan.

     Penyambungan antar varietas (masih dalam satu species) tidak pernah mengalami kesulitan, misalnya penyambungan karet varietas gondang tapeh I dan wungun rejo dengan karet ciranji I atau varietas LCB 479. Demikian juga bila kita melakukan penyambungan dua tanaman yang jenis atau speciesnya lain tapi masih dalam satu marga, tingkat keberhasilannya masih cukup tinggi, walaupun kadang-kadang juga ditemui kegagalan.  Sebagai contoh penyambungan yang berhasil adalah mangga madu (Mangifera indica) yang disambungkan dengan mangga Kweni (Mangifera odorata) untuk tanaman buah-buahan, sedangkan untuk tanaman kehutanan Eucalyptus pellita disambungkan dengan Eucalyptus delupta. Kemungkinan keberhasilan penyambungan tanaman menjadi lebih kecil apabila melakukan penyambungan antar marga yang masih dalam satu famili apalagi penyambungannya antar famili, tingkat keberhasilannya makin kecil.

     Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan 0,05% hormon IAA atau IBA bisa meningkatkan keberhasilan penyambungan, caranya dengan mencelupkan atau mengolesi kedua ujung yang akan dilekatkan, atau menyemprotkan batang atas sebelum disambung.

A. Pengertian dan Tujuan grafting

1. Pengertian

Grafting ialah menyambungkan batang bawah dan batang atas dari tanaman yang berbeda sedemikian rupa sehingga tercapai persenyawaan, kombinasi ini akan terus tumbuh membentuk tanaman baru.

2. Tujuan

Teknik penyambungan ini bisa di terapkan untuk beberapa keperluan, yaitu membuat tanaman unggul, memperbaiki bagian-bagian pohon yang rusak, dan juga untuk membantu pertumbuhan tanaman.

B. Keuntungan dan Kerugian

1. Keuntungan

a. Mengekalkan sifat-sifat klon yang tidak dapat dilakukan pada pembiakan vegetatif lainnya seperti stek, cangkok dan lain-lainnya.

b. Bisa memperoleh tanaman yang kuat karena batang bawahnya tahan terhadap keadaan tanah yang tidak menguntungkan, temperatur yang rendah, atau gangguan lain yang terdapat di dalam tanah.

c. Memperbaiki jenis-jenis tanaman yang telah tumbuh, sehingga jenis yang tidak di inginkan diubah dengan jenis yang dikehendaki.

d. Dapat mempercepat berbuahnya tanaman (untuk tanaman buah-buahan)           dan mempercepat pertumbuhan  pohon dan kelurusan batang (jika tanaman kehutanan).

2. Kerugian

a. Bagi tanaman kehutanan, kemungkinan jika pohon sudah besar gampang patah jika ditiup angin kencang

b. Tingkat keberhasilannya rendah jika tidak cocok antara scion dan rootstock

III. PELAKSANAAN GRAFTING

Sebelum melaksanakan kegiatan grafting ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya adalah :

A. Batang bawah (rootstock) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

ü Mempunyai daya adaptasi seluas mungkin, artinya tanaman itu kompatibel dengan berbagai varietas. Bahkan bila perlu juga kompatibel dengan berbagai jenis dalam satu genus, yang dimaksud kompatibel disini adalah kemampuan dua tanaman untuk membentuk sambungan (buding atau grafting) dengan baik dan sambungan dua tanaman ini mampu tumbuh dengan baik.

ü Mempunyai perakaran yang kuat dan tahan terhadap serangan hama dan penyakit yang ada didalam tanah.

ü Kecepatan tumbuhnya sesuai dengan batang atas yang digunakan, dengan demikian diharapkan batang bawah ini mampu hidup bersama dengan batang atas.Tidak mempunyai pengaruh pada batang atas, baik dalam kualitas maupun kuantitas buah (tanaman buah-buahan)  atau kayu (tanaman kehutanan) pada tanaman yang terbentuk sebagai hasil sambungan.

ü Mempunyai batang yang kuat dan kokoh.

B.  Batang atas (Scion) mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

- Cabang dari pohon yang kuat, pertumbuhannya normal dan bebas dari serangan hama dan penyakit.

- Bentuk cabang lurus, diameternya disesuaikan dengan batang bawah, yaitu sama atau lebih kecil dari diameter batang bawah. Diameter paling besar ± 1 cm.

- Cabang dari pohon induk yang sifatnya benar-benar seperti yang dikehendaki, misalnya berbuah lebat dan berkualitas tinggi (untuk tanaman buah-buahan) berbatang lurus, batang bulat, pertumbuhan diameter cepat (jika jenis tanaman kehutanan).

- Bisa menyesuaikan diri dengan batang bawah sehingga sambungan kompatibel.

C. Pengumpulan Scion

a. Pengumpulan sebaiknya berasal dari pohon yang muda dan sehat, yang sifatnya benar-benar seperti yang dikehendaki.

b. Pilih cabang muda yang mempunyai beberapa mata tunas yang dorman, lurus, diameternya disesuaikan dengan batang bawahnya (rootstock) yang umum digunakan berdiameter ± 1 cm.

c. Hindari cabang-cabang yang mungkin mempunyai tunas yang mutan.

d. Pilih cabang yang bebas dari penyakit yang berat dan kerusakan berat karena serangan hama.

e. Usahakan pengambilan scion pada pagi hari sebelum tengah hari.

D. Alat dan Bahan

a. Alat

1. Gunting grafting ( Stek )

2. Pisau grafting

3. Batu asahan

4. Papan kayu untuk alas pemotongan scion

b. Bahan

1. Pita pengikat, rafia, para film ( jika ada )

2. Lilin penutup luka

3. Kantong plastik

E. Urutan pelaksanaan grafting

Di juknis ini hanya di paparkan tiga teknik grafting yang dianggap tidak terlalu sulit, artinya relatif mudah dalam pelaksanaannya.

a. Teknik Veneer

clip_image002

Gambar 1. Ilustrasi cara penyambungan dengan teknik veneer

b. Teknik grafting stripped/Rind

clip_image004

Gambar 2. Ilustrasi cara penyambungan dengan teknik grafting stripped/ Rind
c. Teknik grafting top cleft graf/ cleft

Gambar 3. Ilustrasi cara penyambungan dengan teknik top cleft graf

clip_image006

Di bawah ini adalah rincian pelaksanaan kegiatan grafting diantaranya sebagai berikut:

a) Potong scion secara rapi, dengan mata tunas dua atau tiga mata tunas kemudian sayat  miring pangkal scion, sedangkan sebelah lagi cukup dengan mengelupas kulitnya sehingga tinggal kambiumnya saja, (jika menggunakan teknik Veneer dan teknik rind) sayat kedua sisi scion berbentuk huruf V, (bila menggunakan teknik grafting top cleft graf) dan usahakan dalam penyayatan jangan sampai berulang-ulang.

b) Potong rootstock pada tempat yang tepat sesuai dengan sambungan yang diinginkan

c) Sambungkan scion pada rootstock dengan memperhatikan apakah kambium scion dan kambium rootstock telah saling berlekatan, bila batang bawah tidak sama besar dengan batang atas, maka salah satu sisinya  diusahakan berimpit (satu- garis) supaya kambium bisa bersatu, walaupun hanya satu sisi. (grafting top cleft).

d) Ikat sambungan dengan pita grafting plastik, para film atau tali rafia, sehingga kambiumnya dapat melekat erat.

e) Setelah itu sambungan dibungkus kantong plastik transparan (bening) untuk menjaga kestabilan suhu.

F. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan

a. Scion yang dijadikan bahan sambungan tersebut tidak cacat dan masih dalam keadaan segar, tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda dan berbatang bulat.

b. Grafting tidak terkena secara langsung terik matahari maupun air hujan.

c. Bagian sambungan kambium harus menempel seerat mungkin, paling tidak salah satu dari bagiannya.

d. Pisau dan gunting  yang digunakan untuk kegiatan sambungan ini yang tajam dan tidak berkarat agar sambungan tidak terinfeksi oleh penyakit.

e.  Dikerjakan dengan secepat mungkin, dengan kerusakan minimum pada kambium, dan diusahakan penyayatan pada scion jangan sampai berulang-ulang.

f. Usahakan untuk menjaga bagian yang terluka, baik pada scion maupun pada rootstock agar tetap dalam keadaan lembab.

g. Bagian sambungan harus dijaga dari kekeringan sampai beberapa minggu setelah penyambungan.

G. Pemeliharaan setelah penyambungan

a. Setelah scion mengeluarkan tunas dengan ketinggian tunas ± 3 cm plastik yang mengkerudungi grafting dibuka dengan cara menggunting sudut plastik sedikit demi sedikit supaya tunas yang baru tumbuh tersebut tidak kepanasan, sampai tunas itu kuat terhadap terik matahari.

b. Usahakan rootstock dalam kondisi lembab, jangan sampai kekeringan dengan menyiram bila rootstock kering.

c. Lepaskan pita pengikat sambungan pada saat sambungan telah bertunas dan telah bersatu antara kambium batang bawah dengan kambium batang atas.

d. Hilangkan tunas-tunas yang tumbuh pada rootstocknya sehingga makanan dan energi bisa terfokus untuk keberhasilan penyambungan.

e. Sangga tanaman sambungan jika tanaman tersebut tidak cukup kuat untuk menyangga dirinya sendiri.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1993, Pegangan Pelaksanaan Pembiakan Vegetatif Konvensional. Sambung

Pracaya, 1992, Jeruk Manis. Varietas, Budidaya, dan Pasca panen P.T. Penebar

         Swadaya, Jakarta.

Rukmana, R. , 1995, Mawar, Seri Bunga Potong, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Rukmana, R. , 1995, Bugenvil, Seri Tanaman Hias, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Rochiman, K. ,Haryadi, S. S. , 1973, Pembiakan Vegetatif, Pengantar Agronomi,

Dep. Agronomi Fakultas Pertanian IPB Bogor.

Wudianto, R. , 2002, Membuat Setek, Cangkok dan Okulasi, P. T. Penebar Swadaya,

        Jakarta.

Pemangkasan Tanaman Kakao

Pemangkasan adalah tindakan pembuangan sebagian dari organ tanaman berupa cabang, ranting dan daun yang bertujuan untuk : 1). Memperoleh cabang tanaman kakao yang baik; 2). Mengatur penyebaran cabang-cabang dan daun-daun produksi agar bisa merata; 3). Membuang bagian-bagian tanaman yang tidak dikehendaki, misal tunas air, cabang sakit/patah; 4). Merangsang agar tanaman membentuk organ baru yaitu daun-daun muda yang potensial sebagai penghasil makanan dan bunga; 5). Menekan resiko terjadinya serangan hama dan penyakit; 6). Meningkatkan kemampuan tanaman untuk membentuk buah.

Macam pemangkasan dan pelaksanaannya:
a. Pemangkasan Bentuk :
1. Fase muda, dilakukan pada saat tanaman berumur 8-12 bulan dengan membuang cabang yang lemah dan mempertahankan 3-4 cabang yang letaknya merata ke segala arah untuk membentuk jourquette (percabangan).
2. Fase Remaja, dilakukan pada saat tanaman berumur 18-24 bulan dengan membuang cabang primer sejauh 30-60 cm dari jourquette (percabangan).
Caranya : Dari cabang primer yang tumbuh (4-6 cabang) disisakan 3 cabang (dipilih yang tumbuhnya sehat, kuat, arah tumbuhnya simetris dan menuju ke atas).

b. Pemangkasan Pemeliharaan :
Untuk memelihara agar kerangka tanaman kakao yang sudah baik dapat dipertahankan.
Caranya : Cabang sekunder yang tumbuhnya terlalu dekat dengan jourquette (jarak 40 - 60 cm) dibuang, cabang-cabang sekunder berikutnya diatur agar jaraknya tidak terlalu rapat satu sama lain.

c. Pemangkasan Produksi
1). Mengatur agar penyebaran daun produktif merata; 2). Membuang daun yang kurang produktif dalam menghasilkan makanan; 3). Membuang bagian tanaman yang tidak dikehendaki (sakit dan patah); 4). Menekan resiko serangan hama dan penyakit.
Caranya : Mengurangi tajuk tanaman kakao yang terlalu rimbun, cabang yang ujungnya masuk ke dalam tajuk tanaman di dekatnya yang berdiameter kurang dari 2,5 cm dipotong.

Pedoman Pemangkasan Kakao:
a). Hindari memotong cabang yang terlalu besar (diameter lebih dari 2,5 cm), kecuali memang diperlukan antara lain terhadap cabang yang patah atau terserang hama dan penyakit (apabila terpaksa harus memotong cabang besar, maka luka potongan harus ditutup dengan obat penutup luka misalnya cat); b). Pemotongan ranting atau cabang-cabang kecil (diameter kurang dari 2,5 cm) dilakukan rapat dengan cabang induknya sedangkan pemotongan cabang besar dilakukan dengan meninggalkan sisa kira-kira sepanjang 5 cm; c). Selalu dijaga agar tajuk tanaman kakao tidak sampai terlalu terbuka yang dapat berakibat matinya sel-sel jaringan pada bagian jourquette; d). Tidak melakukan pemangkasan jika tanaman kakao sedang berbunga lebat atau sebagian besar ukuran buahnya masih kecil; e). Dalam pemangkasan ini perlu diingat bahwa cabang dan ranting adalah asset untuk produksi buah kakao, oleh karena itu jangan memotong cabang atau ranting tanpa mempertimbangkan secara bijaksana.

HAMA/PENYAKIT UTAMA PADA TANAMAN KAKAO DAN TEKNIK PENGENDALIANNYA

GEJALA SERANGAN

a. Penggerek buah kakao (PBK)
Conopomorpha cramerella
Buah kakao yang diserang berukuran panjang 8 cm, dengan gejala masak awal, yaitu belang kuning hijau atau kuning jingga dan terdapat lubang gerekan bekas keluar larva. Pada saat buah dibelah biji-biji saling melekat dan berwarna kehitaman, biji tidak berkembang dan ukurannya menjadi lebih kecil. Selain itu buah jika digoyang tidak berbunyi.

b. Kepik penghisap buah (Helopeltis spp)
Buah kakao yang terserang tampak bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman dengan ukuran bercak relatif kecil (2-3 mm) dan letaknya cenderung di ujung buah. Serangan pada buah muda menyebabkan buah kering dan mati, tetapi jika buah tumbuh terus, permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. Bila serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan daun layu, gugur kemudian ranting layu mengering dan meranggas.

c. Penyakit busuk buah (Phytophthora palmivora)
Buah kakao yang terserang berbercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari ujung atau pangkal buah. Penyakit ini disebarkan melalui sporangium yang terbawa atau terpercik air hujan, dan biasanya penyakit ini berkembang dengan cepat pada kebun yang mempunyai curah hujan tinggi dengan kondisi lembab.

METODE PENGENDALIAN

Usaha pengendalian hama/penyakit tersebut terutama dilakukan dengan sistem PHT (pengendalian hama terpadu).


• Hama penggerek buah.
Pengendaliannya dilakukan dengan : (1) karantina; yaitu dengan mencegah masuknya bahan tanaman kakao dari daerah terserang PBK; 2) pemangkasan bentuk dengan membatasi tinggi tajuk tanaman maksimum 4m sehingga memudahkan saat pengendalian dan panen; (3) mengatur cara panen, yaitu dengan melakukan panen sesering mungkin (7 hari sekali) lalu buah dimasukkan dalam karung sedangkan kulit buah dan sisa-sisa panen dibenam; (4) penyelubungan buah (kondomisasi), caranya dengan mengguna-kan kantong plastik dan cara ini dapat menekan serangan 95-100 %. Selain itu sistem ini dapat juga mencegah serangan hama helopeltis dan tikus.; (5) cara kimiawi: dengan Deltametrin (Decis 2,5 EC), Sihalotrin (Matador 25 EC), Buldok 25 EC dengan volume semprot 250 l/ha dan frekuensi 10 hari sekali.

• Hama helopeltis
Pengendalian yang efektif dan efisien sampai saat ini dengan insektisida pada areal yang terbatas yaitu bila serangan helopeltis <15 % sedangkan bila serangan >15% penyemprot-an dilakukan secara menyeluruh. Selain itu hama helopeltis juga dapat dikendalikan secara biologis, menggunakan semut hitam. Sarang semut dibuat dari daun kakao kering atau daun kelapa diletakkan di atas jorket dan diolesi gula.

• Penyakit busuk buah.
Dapat diatasi dengan beberapa cara yaitu: (1) sanitasi kebun, dengan memetik semua buah busuk lalu membenamnya dalam tanah sedalam 30 cm; (2) kultur teknis, yaitu dengan pengaturan pohon pelindung dan lakukan pemangkasan pada tanaman-nya sehingga kelembaban di dalam kebun akan turun; (3) cara kimia, yaitu menyemprot buah dengan fungisida seperti :Sandoz, cupravit Cobox, dll. Penyemprotan dilakukan dengan frekuensi 2 minggu sekali; (4) penggunaan klon tahan hama/penyakit seperti: klon DRC 16, Sca 6,ICS 6 dan hibrida DR1.

Minggu, 23 Oktober 2011

FERMENTASI BIJI KAKAO

clip_image001

Kakao merupakan salah satu komoditas ekspor yang dapat memberikan kontribusi untuk peningkatan devisa Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara pemasok utama kakao dunia setelah Pantai Gading (38,3%) dan Ghana (20,2%) dengan persentasi 13,6%. Permintaan dunia terhadap komoditas kakao semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hingga tahun 2011, ICCO (International Cocoa Organization) memperkirakan produksi kakao dunia akan mencapai 4,05 juta ton, sementara konsumsi akan mencapai 4,1 juta ton, sehingga akan terjadi defisit sekitar 50 ribu ton per tahun (Suryani, 2007). Kondisi ini merupakan suatu peluang yang baik bagi Indonesia karena sebenarnya Indonesia berpotensi untuk menjadi produsen utama kakao dunia.

Namun, kualitas biji kakao yang diekspor oleh Indonesia dikenal sangat rendah (berada di kelas 3 dan 4). Hal ini disebabkan oleh, pengelolaan produk kakao yang masih tradisional (85% biji kakao produksi nasional tidak difermentasi) sehingga kualitas kakao Indonesia menjadi rendah. Kualitas rendah menyebabkan harga biji dan produk kakao Indonesia di pasar internasional dikenai diskon USD200/ton atau 10%-15% dari harga pasar. Selain itu, beban pajak ekspor kakao olahan (sebesar 30%) relatif lebih tinggi dibandingkan dengan beban pajak impor produk kakao (5%), kondisi tersebut telah menyebabkan jumlah pabrik olahan kakao Indonesia terus menyusut (Suryani, 2007). Selain itu para pedagang (terutama trader asing) lebih senang mengekspor dalam bentuk biji kakao (non olahan).

Peningkatan produksi kakao mempunyai arti yang strategis karena pasar ekspor biji kakao Indonesia masih sangat terbuka dan pasar domestik masih belum tergarap. Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan kakao dapat diatasi dengan penerapan fermentasi pada pengolahan biji pasca panen dan pengembangan produk hilir kakao berupa serbuk kakao.

clip_image002

Proses fermentasi akan menghasilkan kakao dengan cita rasa setara dengan kakao yang berasal dari Ghana. Selain itu, kakao Indonesia memiliki kelebihan tidak mudah meleleh sehingga cocok untuk blending.

Fermentasi merupakan suatu proses produksi suatu produk dengan mikroba sebagai organisme pemroses. Fermentasi biji kakao merupakan fermentasi tradisional yang melibatkan mikroorganisme indigen dan aktivitas enzim endogen. Fermentasi biji kakao tidak memerlukan penambahan kultur starter (biang), karena pulp kakao yang mengandung banyak glukosa, fruktosa, sukrosa dan asam sitrat dapat mengundang pertumbuhan mikroorganisme sehingga terjadi fermentasi.
Tahapan pengolahan pasca panen kakao yaitu buah hasil panen dibelah dan biji berselimut pulp dikeluarkan, kemudian dikumpulkan pada suatu wadah. Jenis wadah yang digunakan dapat bervariasi, diantaranya drying platforms (Amerika), keranjang yang dilapisi oleh daun, dan kontainer kayu. Kontainer disimpan di atas tanah atau di atas saluran untuk menampung pulp juices yang dihasilkan selama fermentasi (hasil degradasi pulp). Pada umumnya, dasar kontainer memiliki lubang kecil untuk drainase dan aerasi. Kontainer tidak diisi secara penuh, disisakan 10 cm dari atas dan permukaan atas ditutupi dengan daun pisang yang bertujuan untuk menahan panas dan mencegah permukaan biji dari pengeringan. Fermentasi dalam kotak dapat dilakukan selama 2 – 6 hari, isi kotak dibalik tiap hari dengan memindahkannya ke kotak lain.

Fermentasi biji kakao akan menghasilkan prekursor cita rasa, mencokelat-hitamkan warna biji, mengurangi rasa-rasa pahit, asam, manis dan aroma bunga, meningkatkan aroma kakao (cokelat) dan kacang (nutty), dan mengeraskan kulit biji menjadi seperti tempurung. Biji yang tidak difermentasi tidak akan memiliki senyawa prekursor tersebut sehingga cita rasa dan mutu biji sangat rendah. Fermentasi pada biji kakao terjadi dalam dua tahap yaitu fermentasi anaerob dan fermentasi aerob. Keberadaan asam sitrat membuat lingkungan pulp menjadi asam sehingga akan menginisiasi pertumbuhan ragi dan terjadi fermentasi secara anaerob. Fermentasi aerob diinisiasi oleh bakteri asam laktat dan bakteri asam asetat. Produk fermentasi yang dihasilkan berupa etanol, asam laktat, dan asam asetat yang akan berdifusi ke dalam biji dan membuat biji tidak berkecambah.

Selama fermentasi terjadi pula aktivitas enzimatik, enzim yang terlibat adalah endoprotease, aminopeptidase, karboksipeptidase, invertase (kotiledon dan pulp), polifenol oksidase dan glikosidase. Enzim-enzim ini berperan dalam pembentukan prekursor cita rasa dan degradasi pigmen selama fermentasi. Prekursor cita rasa (asam amino, peptida dan gula pereduksi) membentuk komponen cita rasa di bawah reaksi Maillard (reaksi pencoklatan non-enzimatis) selama penyangraian.

Untuk menghentikan proses fermentasi, biji kakao kemudian dikeringkan. Pengeringan dilakukan sampai kadar air menjadi 7 – 8 % (setimbang dengan udara berkelembaban 75 %). Kadar air kurang dari 6 %, biji akan rapuh sehingga penanganan serta pengolahan lanjutnya menjadi lebih sulit. Kadar air lebih dari 9 % memungkinkan pelapukan biji oleh jamur. Pengeringan dengan pemanas simar surya dapat memakan waktu 14 hari, sedangkan dengan pengeringan non surya memakan waktu 2 – 3 hari.

Setelah pengeringan, biji disortir untuk membersihkan biji dan dilanjutkan dengan penyangraian pada suhu 210 C selama 10 – 15 menit. Tujuan dari penyangraian adalah untuk mensterilisasi biji serta pembentukan cita rasa dari prekursor cita rasa (hasil fermentasi) melalui reaksi Maillard.

Pada saat panen, petani coklat Indonesia memiliki kecenderungan untuk mengolah biji coklat tanpa fermentasi dengan cara merendam biji dalam air untuk membuang pulp dan dilanjutkan dengan penjemuran, dengan demikian biji siap dijual tanpa memerhatikan kualitas. Langkah tersebut diambil petani untuk mendapatkan hasil penjualan yang cepat karena jika melalui fermentasi diperlukan waktu inkubasi sehingga petani harus menunggu untuk mendapatkan keuntungan dari penjualan, sedangkan fermentasi merupkan kunci penting untuk memberikan cita rasa coklat. Dengan demikian, pengetahuan mengenai pentingnya fermentasi pada biji kakao perlu disebarluaskan pada petani coklat.

Produk yang melalui proses fermentasi sehingga diperoleh cita rasa coklat yang sesungguhnya dengan cost production yang relatif rendah. Fermentasi dapat dilakukan secara tradisional dan tidak memerlukan treatment khusus, hanya diperlukan wadah fermentasi dari kayu, ruang penyimpanan, lahan untuk menjemur, dan mesin penyangrai.

Sumber:

  • TK-4231 / Industri Pangan
    Pengolahan Cokelat/Kakao (1), Dr. Tatang H. Soerawidjaja
  • Suryani, Dinie, Zulfebriansyah, 2007. Komoditas Kakao : Potret dan Peluang Pembiayaan. Economic Review : 210 . Desember 2007.
  • Carl E Hansen, Margarita del Olmo and Christine Burri. 1998. Enzyme Activities in Cocoa Beans During Fermentation. J Sci Food Agric: 77, 273È281.

PEMBIBITAN DAN PEMUPUKAN BIBIT KAKAO

Untuk melaksanakan program tersebut perlu pengadaan bibit kakao hibrida, yaitu dengan mendatangkan benih kakao dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember, Jawa Timur. Program pembibitan dua juta kakao oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tanggamus, memerlukan teknis pembibitan yang baik.

Tanaman-tanaman kakao yang tergolong tidak produktif adalah :

1. Tanaman kakao berumur 4—5 tahun tidak berbuah (steril),

2. Tanaman kakao menghasilkan (TM) yang hanya mampu berbuah

10—12 buah per pohon per tahun,

3. Tanaman kakao tua (15—20 tahun) yang tidak produktif, dan

4. Tanaman kakao rusak

Pengadaan Benih Kakao Hibrida

Pengembangan agrobisnis kakao melalui pola rekayasa teknologi adalah pengadaan bibit kakao hibrida. Dalam melaksanakan program tersebut pemerintah daerah Prov. Lampung membeli benih kakao hibrida (F1) dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jember Jawa Timur dan mempelajari teknis pembibitan kakao varietas hibrida.

Varietas kakao hibrida adalah varietas kakao Trinitario yang memiliki kemampuan produksi lebih tinggi daripada varietas Criollo dan Forastero. Jika varietas Trinitario akan dijadikan sumber benih varietas kakao hibrida, maka persyaratan buah yang dapat dijadikan benih untuk pembibitan adalah:

(a) buah berasal dari pohon induk yang telah berumur lima tahun, berbuah lebat, dan tidak terserang hama-penyakit,

(b) kulit buah berwarna kuning sebagai tanda buah telah tua,

(c) ukuran buah besar, kira-kira mengandung 50 biji kakao, dan

(d) buah tidak cacat atau terserang hama.

Penyemaian (Pre-nurserry) dan Pembibitan (Main-nurserry)

Dari pengamatan di lapang dan penjelasan koordinator pelaksana pembibitan, bahwa tahap penyemaian benih dikotak semai tidak dilakukan dengan penjelasan:

1. Benih kakao hibrida yang dikirim dari Pusat Penelitian Kaopi dan Kakao Jember

telah mulai akan berkecambah, yaitu radikula telah muncul sehingga perlu pena-

nganan segera.

2. Jumlah benih yang didatangkan cukup banyak sehingga perlu perencanaan yang

cepat dan tepat.

Penyemaian, benih disemai langsung ke dalam polybag yang telah diisi media tanam (Gambar 1). Media terlebih dahulu disiram dengan air dan membuat lubang dengan sepotong kayu, benih kakao ditanam dalam lubang dengan posisi bagian bakal akar menghadap ke bawah (Gambar 2). Setelah benih ditanam, bedeng-bedeng semaian disungkup dengan plastik transparan, dengan maksuduntuk menjaga tingkat kelem- baban dan agar media tetap basah.

Lama penyemaian adalah 3—5 hari, setelah benih berkecambah sampai kotiledon terangkat ke atas permukaan dinamakan fase serdadu. Fase pertumbuhan selanjutnya adalah fase kepelan, yaitu kotiledone telah membuka dan tumbuh tunas muda berwar- na merah, sampai tahap pertumbuhan fase kepelan satu minggu maka tahap awal pertumbuhan kecambah telah dilalui.

Sebagaimana dijelaskan Siregar dkk (2000), bahwa fase pertumbuhan kecambah yang tepat dari mulai semai sampai fase serdadu, dan fase keping biji terbuka (kepelan) adalah 5—10 hari setelah semai.

clip_image002

Gambar 1. Polibag siap tanam (semai) di Bedeng Pembibitan

clip_image004

Gambar 2. Penanaman Benih Kakao Hibrida ke dalam Polibag

Selama fase perkecambahan sungkup tetap tertutup, dan penyiraman hanya dilakukan jika media mengalami kekeringan. Untuk menjaga kelembaban dalam sungkup maka penyiraman hanya dilakukan pada sungkupnya saja, dan ini dilakukan jika udara panas karena terik sinar matahari. Sungkup mulai dibuka jika kondisi tanaman muda telah berumur 4-6 minggu dan telah memiliki dua pasang daun muda atau 3—4 helai daun (Gambar 3).

clip_image006

Gambar 3. Pembukaan Sungkup Pesemaian untuk tahap Pembibitan Kakao

Pembibitan, pembibitan kakao hibrida yang dilaksanakan di UPTD-PPHPR Paria- man Kecamatan Limau, Kabupaten Tanggamus adalah pembibitan langsung dalam polibag. Pembibitan menggunakan polibag berukuran 15 x 20 cm, media pembibitan terdiri dari tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1.

Media tanah dan pupuk kandang sebelum dimasukkan ke polibag dicampur merata, media tanah yang telah dicampur dimasukkan ke dalam polibag sampai ketinggian kira-kira 2 cm dari bibir atas polibag. Lalu media disiram dengan air sampai jenuh, dan disusun pada bedeng pembibitan dengan naungan atap daun kelapa.

Menurut Susanto (2003), pembibitan kakao dapat ditanam langsung ke dalam polibag dengan media campuran tanah dengan pasir pada perbandingan 2 : 1, ukuran polibag 15 x 20 cm² untuk bibit mencampai umur 3—4 bulan, dan pada bedeng pembibitan dibuatkan naungan.

clip_image008

Gambar 4. Bibit Kakao Hibrida umur 6 minggu setelah tanam

Setelah pertumbuhan kecambah kakao, dilanjutkan dengan tahapan pertumbuhan bibit. Bibit kakao hibrida memerlukan perawatan yang intensif agar bibit kakao yang dihasilkan berkualitas, yaitu bibit yang memiliki vigor baik.

Pemeliharaan Bibit Kakao

Sejak bibit kakao berumur 6 minggu, diperlukan pemeliharaan yang intensif, yaitu: penyiraman, pemupukan, dan pengendalian hama-penyakit tanaman, serta pengen- dalian gulma. Pemeliharaan bibit kakao hibrida pada tahap akhir adalah seleksi bibit yang mengalami pertumbuhan tidak normal atau kurang baik (Gambar 5), pemeli- haraan bibit kakao dilakukan sampai bibit berumur 9—12 minggu atau bibit telah siap salur.

clip_image010

Gambar 5. Seleksi Bibit Kakao yang pertumbuhannya kurang baik

Pemupukan bibit kakao dilakukan setelah bibit memiliki 2—3 daun atau setelah kotilodon mengering dan gugur. Jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk majemuk NPK (15:15:15) dengan dosis 5 gram/bibit, pemberian pupuk dengan ditabur sekeliling polibag atau batang bibit kakao.

Selama di pembibitan, bibit kakao perlu pemeliharaan yang intensif, yaitu melakukan pemupukan dengan pupuk ZA dengan dosis 2 gram/bibit, atau dengan pupuk NPK (15:15:15) dengan dosis 2—5 gram/bibit.. Untuk pemupukan dengan menggunakan pupuk cair, pada saat bibit kakao berumur lebih dari satu bulan, maka dapat pula dilakukan pemupukan dengan pupuk cair Gandasil-D dengan konsentrasi 0,2%. Penyemprotan dilakukan secara merata pada seluruh permukaan daun, dan dilakukan sore hari dengan frekuen- si penyemprotan dua minggu satu kali. Bibit kakao siap ditanam di lapang pada umur 4—6 bulan dengan vigor petumbuhan baik.

Pertumbuhan Bibit Kakao

Berdasarkan pertumbuhan bibit sejak awal tanam di pembibitan sesuai dengan blok bedengan tanggal tanam, secara umum pertumbuhan merata dan baik. Rata-rata umur bibit kakao hibrida 9--11 minggu atau berumur lebih-kurang tiga bulan, memiliki vigor tumbuh yang bauk dan mencerminkan kualitas bibit yang bermutu. Dari hasil observasi pertumbuhan bibit di lapang, terlihat media tumbuh yang terdiri dari tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1,

dan intensifnya pemeliharaan yang dilakukan seperti penyiraman, pemupukan , pengendalian terhadap OPT , maka pertumbuhan bibit kakao sangat baik (Gambar 6).

clip_image012

Gambar 6. Bibit Kakao Hibrida Siap Salur umur 9--11 minggu

Hal tersebut karena peran fungsi media tumbuh, yaitu tanah dan pupuk kandang dapat mengkondisikan media tumbuh yang baik. Media tersebut menjadi gembur dan aersinya cukup baik. Sebagaimana diketahui bahwa pupuk kandang sebagai bahan organik dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, sehingga bibit kakao dapat tumbuh dengan baik.

Penggunaan bahan organik dapat berpengaruh baik terhadap : (1) sifat fisik tanah (struktur dan aerasi tanah), (2) sifat kimia tanah (menambah unsur makro dan mikro, serta meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK), dan (3) sifat biologi tanah yaitu menambah jumlah dan aktifitas organisme tanah.

Sedangkan pengunaan tanah dan penambahan bahan organik yang seimbang akan menambah tingkat kesuburan tanah dan memperbaiki kegemburan tanah, serta bahan organik berfungsi untuk mempertahankan kelembaban tanah, persediaan unsur hara, dan memperbaiki struktur tanah.

Teknik Penyarungan (Sarungisasi) Buah kakao

1. Bahan dan alat,

Bahan dan peralatan yang digunakan untuk penyarungan buah kakao adalah kantong plastik transparan berukuran 15x25 cm yang kedua ujungnya terbuka, karet gelang, staples, dan pipa paralon dengan diameter 1,5 inchi pajangnya 2 meter. Untuk pipa paralon dikedua ujungnya (atas dan bawah) dibuat celah memanjang lebih kurang 50 cm, lebar 2 cm. Alat yang lain adalah kayu atau ranting sebagai pendorong kantung plastik (Gambar 1).

clip_image002

Gambar 1. Peralatan Sarungisasi Buah Kakao: Pipa Paralon dan Kayu Pendorong

2. Pelaksanaan Sarungisasi.

Untuk melaksanakan penyarungan buah kakao, maka perlu disiapkan bahan dan peralatan yang digunakan. Tahapan kegiatan penyarungan buah kakao adalah:

a. Memilih buah kakao muda (pentil) denagn ukuran maksimal 8 – 12 cm, dan umur buah kira-kira 2 bulan.

b. Masukan buah kakao sampai pada perlekatan buah (tangkai buah), kedalam ujung paralon yang telah diprsiapkan plastik sebagai sarung.

c. Mendorong kantong plastik yang telah diberikan karet gelang dengan menggunakan kayu pendorong, sampai terlapas dari pipa paralon dan buah tersarungi oleh kantong plastik (Gambar 2).

d. Penyarungan buah kakao yang mudah diajangkau tidak memerlukan alat, cukup mengunakan tangan dan pengikatan kantong plastik pada pangkal tangkai buah menggunakan staples (Gambar 3).

clip_image004

Gambar 2. Penyarungan Buah Kakao Dengan Mengunakan Pipa Paralon

clip_image006

Gambar 3. Penyarungan Buah Kakao Tidak Menggunakan Pipa Paralon

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT KAKAO

Pengendalian terhadap kerusakan tanaman dan buah kakao yang disebabkan serangan serangga (hama) dan cendawan (penyakit), dengan berbagai metode telah banyak dilaksanakan. Metode pengendalian secara kimia dengan menggunakan pestisida merupakan pilihan yang paling baik, karena cara pengendalian kimia adalah yang paling efektif. Untuk pengendalian dan pemberantasan hama digunakan insektisida berbahan aktif Lamda Sihalotrin dengan konsentrasi 0,25 ml/l dan Beta Sipermetrin dengan konsentrasi 0,5 ml/l. Sedangkan untuk pengendalian penyakit (cendawan) digunakan fungisida berbahan aktif Cuprum dengan konsentrasi 1,5 g/l dan menggunakan bahan perekat (surfaktan) berkonsentrasi 3 ml/l.

clip_image002[4]

Gambar 1. Daun dan Ranting Tanaman Kakao terserang Helopeltis

clip_image004[4]

Gambar 2. Buah kakao terserang Helopeltis

clip_image006[4]clip_image008[4] Gambar 3. Busuk Buah kakao terserang Cendawan (Antraknose dan Phytopthora)

clip_image010[4] clip_image012[4]

clip_image014clip_image016

Gambar 4. Batang dan Buah kakao terserang hama penggerek, dan terserang

Cendawan Phytopthora palmivora atau Colletotrichum gleosporioides

1. Pengendalian Serangga Helopeltis

1.1 Pengendalian Secara Biologis

Hama Helopeltis adalah serangga penghisap pucuk dan buah kakao, serangan Helopeltis pada buah kakao akan menghambat pembentukan biji, dan serangan pada ranting atau pucuk kakao akan menimbulkan kelayuan, merangas dan mati. Pucuk kakao yang terserang dengan intensitas serangan berat akan menyebabkan daun kakao berlubang lalu daun gugur.

Pengendalian Helopeltis seraca biologis adalah pengendalian dengan menggunakan musuh alami, yaitu semut hitam (Delichoderus biruberculatus). Penggunaan semut hitam sebagai pengendalian serangga Helopeltis secara biologis merupakan metoda pegendalian yang kontinu dalam jangka panjang, sehingga diperlukan waktu lama.

clip_image018

Gambar 5. Semut Hitam (Delichoderus biruberculatus) sebagai

pengendali hayati hama Helopeltispada buah kakao

Sebagaimana diketahui bahwa Helopeltis betina menghasilkan telur 20 butir, periode bertelur 6—7 hari, periode nimpa 10—11 hari, dan periode telur sampai menjadi serangga dewasa 21—24 hari. Daya kembangbiak Helopeltis yang sangat cepat tidak dapat diimbangi dengan perkembangbiakan semut hitam, akibatnya hama Helopeltis dapat menghancurkan produksi perkebunan kakao. Pengendalian Helopeltis dengan metode biologis menggunakan semut hitam (Delichoderus biruberculatus) hanya efektif untuk mencegah serangan serangga Helopeltis, jika kebun kakao belum terda- pat serangan Helopeltis.

1.2. Pengendalian Secara Kimia

Pengendalian serangga Helopeltis secara kimia, yaitu pengendalian dengan meng- gunakan insektisida dengan tujuan memberantas seluruh populasi hama Helopeltis. Dalam pengendalian serangga Helopeltis secara kimia, hal yang harus diperhatikan adalah ketepatan konsentrasi larutan insektisida, dan jenis insektisida yang diguna- kan. Ke-dua hal tersebut menjadi penting agar musuh alami serangga Helopeltis tidak terbunuh, seperti semut hitam yang menguntungkan.

2. Pengendalian Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella Snell)

Hama pengerek buah kakao (PBK) yang dikenal dengan istilah cacao mot, dengan nama latine Conopomorpha cramerella Snell atau Acrocercops cramerella, yang me- nyerang buah kakao dalam stadia ulat (larva).

Selama larva berada di dalam buah kakao (15—18 hari) merusak daging buah, biji, dan saluran makanan; sehingga buah tidak berkembang, dan biji kakao akan mati. Tanda-tanda secara fisik biji kakao yang terserang PBK, yaitu : biji kakao keriput, berwarna hitam, busuk, dan lengket bila disentuh tangan. Untuk pengendalian dan pemberantasan hama Conopomorpha cramerella Snell dapat dilakukan dengan cara penyarungan buah, perampasan buah, dan cara kimia.

2.1 Metode Penyarungan Buah

clip_image020

Gambar 6. Metode Penyarungan buah kakao untuk

pengendalian hama PBK (Cacao Mot).

Dengan penyarugan buah-buah kakao, maka secara lambat laun hama PBK akan berkurang dan hilang. Metode penyarungan buah hanya efektif jika tersedia bahan dan tenaga yang cukup, serta pohon kakao masih mudah dijangkau dengan tangan atau alat. Metode penyarungan buah menjadi tidak efektif jika alat-bahan terbatas, tenaga kerja tidak terampil, pohon kakao yang sudah besar dan tinggi, dan membutuhkan waktu yang lama untuk penyarungan buah.

2.2. Metode Rampasan Buah

Diketahui bahwa pengerek buah kakao hanya memiliki inang tanaman kakao sebagai sumber makanan utama, maka metode rampasan buah menjadi efektif, yaitu memetik seluruh buah kakao yang tersisa pada batang pohon setelah panen besar. Tujuannya adalah menghilangkan ketersediaan makanan bagi serangga PBK, dengan tidak ter- sedianya makanan di areal tanaman kakao; maka populasi serangga PBK dapat ditekan, dan lambat laun serangga PBK hilang dari areal kebun kakao.

clip_image022

Gambar 7. Metode Rampasan Buah yaitu memetik seluruh buah kakao

yang tersisa pada batang pohon setelah panen besar

2.3. Pengendalian Secara Kimia

Pengendalian serangga PBK secara kimia adalah pengendalian dengan menggunakan insektisida, dengan tujuan eradikasi terhadap serangga PBK dengan memberantas (membunuh) seluruh populasi serangga PBK (Conopomorpha cramerella Snell) di areal kebun kakao. Pengendalian serangga PBK secara kimia sama dengan cara menangani serangga Helopeltis, yaitu menggunakan insektisida berbahan aktif Lamda Sihalotrin dengan konsentrasi 0,25 ml/l, dan Beta Sipermetrin dengan konsentrasi 0,5 ml/l.

clip_image024

Gambar 8. Hama (larva) Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella Snell)

2.4. Pengkajian Metode Pengendalian Cendawan Phytopthora palmivora

atau Colletotrichum gleosporioides

Phytopthora palmivora adalah cendawan penyebab penyakit busuk buah, cendawan ini menyerang buah kakao muda dan buah tua. Gejala serangan yaitu: buah berwarna coklat kehitaman, mulai dari ujung sampai pangkal buah. Sedangkan cendawan Colletotrichum gleosporioides adalah penyebab penyakit antraknose pada batang dan buah kakao. Penyakit ini timbul terutama di kebun-kebun yang mengalami kerusakan karena tertimpa tanaman naungan sehingga batang tanaman kakao patah atau rusak, semakin rusak tanaman kakao, semakin besar pula tingkat serangan penyakit ini. Cara pengendalian atau pemberantasan kedua patogen tersebut adalah :

Pengendalian Secara Mekanis dan Kultur Teknis

Pengendalian secara mekanis adalah memotong seluruh bagian tanaman (daun, buah, batang, dan ranting) yang terinfeksi oleh cendawan Phytopthora palmivora atau Colletotrichum gleosporioides, bagian tanaman kakao yang terinfeksi dikumpulkan dalam lubang di luar kebun lalu dimusnakan dengan dibakar dan lubang ditutup kembali dengan tanah.

clip_image026clip_image028

Gambar 9. Cendawan Phytopthora palmivora menyerang batang dan buah kakao

4.4.2. Pengendalian Secara Kimia

Pengendalian secara kimia, merupakan tindakan pencegahan dan pemberantasan cendawan Phytopthora palmivora, dan Colletotrichum gleosporioides dengan meng- gunakan fungisida. Fungisida yang digunakan untuk mencegah dan memberantas cendawan Phytopthora palmivora atau cendawan Colletotrichum gleosporioides adalah fungisida berbahan aktif Cuprum. Penyemprotan fungisisa berbahan aktif cuprum dilakukan awal musim penghujan sampai akhir musim penghujan. Penyem- protan dilakukan menyeluruh pada bagian tanaman (daun, buah, batang, dan ranting) secara merata, dan juga dilakukan penyemprotan ke permukaan tanah.

4.5. Perancangan Alat Semprot Khusus

Pengendalian terhadap organisme pengganggu tanaman kakao (busuk buah) secara kimia merupakan alternatif metode pengendalian yang paling tepat dan efektif, yaitu melakukan penyemprotan menggunakan insektisida, dan atau fungisida. Pemilihan metode pengendalian secara kimia terhadap hama dan penyakit penyerang tanaman kakao, maka aplikasi pestisida adalah dengan teknik penyemprotan pada areal dan tanaman kakao. Untuk melakukan penyemprotan pada tanaman kakao seluas 4,6 Ha, terhadap tanaman yang telah berumur lebih dari lima tahun, tinggi tanaman lebih dari dua meter; maka diperlukan perlengkapan alat semprot yang terancang secara khusus agar dapat mencapai hasil yang maksimal.

clip_image029

Gambar 10. Perancang Peralatan Semprot Khusus

Untuk merancang peralatan semprot yang khusus digunakan:

1. Stik sprayer dengan dua model kepala semprot (nozzel), yaitu nozzel sprayer

vertikal dan nozzle sprayer horizontal,

2. Selang berdiameter ½ inc panjang 30 m,

3. Satu unit mesin pompa air (waterpump) berdaya listrik 500 Watt,

4. Satu unit mesin listrik (Generator) berdaya 1000 Watt,

5. Satu unit stavol (SVC-500 N), dan

6. Tempat penampung laruran semprot (tangki plastic) berkapasitas 60 liter.